Kita (sengaja) lupa bilang cinta
Saya tak pernah mengerti, mengapa pertambahan usia justru menjauhkan saya dari cara mencinta. Jika dulu saya antusias bermanja pada papa-mama, bersendau-gurau bersama adik-adik saya, berkumpul bersama sahabat, bahkan berbeda pendapat dengan mereka, namun kini perubahan itu jelas adanya.
Apakah pekerjaan yang dijalankan, aktivitas mengurus kehidupan baru yang dibina bersama suami menjadi pembenaran atas kesibukan yang kadang tak berdasar. Lantas saya bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak tlah saya luangkan waktu untuk sekedar say hello kepada kedua orangtua? Menanyakan kesibukan sekolah atau pekerjaan yang dijalani adik-adik saya? Juga mengucapkan selamat ulangtahun pada sahabat-sahabat tercinta? Melalui telp, sms, email, FB atau apapun caranya?
Banyak yang tak sadar bahwa kita seringkali (sengaja) lupa bilang cinta.
Add comment May 7, 2009
Kampusmu = Kastamu
“Eh sayang banget ya..si itu kan pinter, kok ngga dapet universitas negeri?”
Saya tidak pernah menyangka fenomena ini kemudian menjadi bahan perbincangan seru antara saya dan suami. Maklum, suami saya yang alumni FISIP UNAS sempat mencak-mencak karena seringkali menemui anggapan bahwa kemampuannya berada dibawah rata-rata jebolan Universitas Negeri. Padahal nyatanya, sejak bergelut dengan dunia jurnalistik, tak jarang ia menemukan sosok-sosok sukses yang berangkat dari sekolah swasta.
Saya sempat mendebat, semua karena perbedaan metode belajar saja, sekolah negeri seolah mencipta kaum SO (Study Oriented) karena berbasis catatan akademik seseorang, sedangkan sekolah swasta dianggap sebagai pilihan kedua yang fokusnya hanya soal meraup materi semata.
Aneh juga, jika hingga saat ini kita masih mengkotak-kotakkan diri dengan label SAYA ANAK NEGERI dan KAMU ANAK SWASTA. Tak pernahkah terlintas di pikiran bahwa, tak jarang seseorang MEMILIH ingin bersekolah dimana.
2 comments April 2, 2009
Sang Maestro
Instrumental music mengalun merdu dari windows media player yang memainkan 10 track album Evolusi karya Yockie Suryo Prayogo & Susilo Bambang Yudhoyono. Segenap pikiran saya begitu dimanja untaian nada, imajinasi berlompatan dalam kepala, inilah salah satu kelemahan terbesar saya, cepat kagum dibuai karya cerdas para musisi, yang tak hanya menawarkan manisnya sebuah industri, melainkan karya yang membuat saya makin mencinta Sang Maha.
Sore ini, saya mendapat kesempatan berbincang dengan Mas Yockie seputar peluncuran album instrumentalnya. Tak menyangka, begitu banyak yang saya dapatkan hanya dengan obrolan sederhana bersama beliau, mengenai karya pop yang merajalela, karya yang memihak pada industri-dan bukan memperkaya pilihan pendengar, political will, apresiasi terhadap karya seni hingga semakin lembut beliau bicara, semakin saya mampu menangkap idealisme yang dipegangnya.
Lebih dari sekedar pengetahuan tentang bidang yang tekuni, dedikasi, sebuah visi, bahkan berani menjadi diri sendiri memastikan bahwa saya tlah berbincang dengan salah seorang Maestro. Tak sedikitpun nada kesombongan mencuat dari perbincangan kami, yang dipaparkan hanya semangatnya mengelola atau mencipta sebuah karya bersama rekan-rekan seprofesinya, tak heran jika Idris Sardi, Kiboud Maulana, musisi senior lainnya terlibat penuh hasrat.
Terlepas dari reinterpretasi album miliki Bapak Susilo Bambang Yudhoyono selaku presiden Republik Indonesia, album ini memikat saya dengan caranya tersendiri. Tak berdasar politis terhadap SBY dan partainya atau fanatik terhadap karya-karya Yockie, rangkaian melodi yang ditawarkan ke telinga inilah yang menyadarkan saya betapa prestasi Sang Maestro tlah melampaui namanya sendiri.
Saya berandai-andai kembali, bagaimana maestro di ranah lain, dalam Blogosphere misalnya? Bagaimanakah cara mereka mempertahankan idealisme saat ngeblog? Menghasilkan karya tulis tanpa tergerus industri, sehingga yang dihasilkan kemudian prestasi..optimisme terhadap mereka-para pembaca setianya, inspirasi, motivasi..bahkan manfaat melakukan perubahan menuju pribadi yang lebih baik lagi..hanya berawal dari sebuah karya..rangkaian kata..
Jauh dari sebatas tahta popularitas, atau tumpukan komentar yang melenakan (tapi menyenangkan…) plus kehilangan hati saat menulis..
Ah..entah mengapa saya begitu yakin blog menjadi jalan efektif mengkampanyekan hal-hal baik, begitupun hal-hal sebaliknya, tinggal bagaimana menekuni pilihan…Sang Maestrolah yang bisa menjawabnya..dengan karya..yang melebihi nama mereka.
Add comment March 20, 2009
Benarkah Bakat sesuatu yang Hebat?
Perdebatan ini bermula ketika saya membaca artikel menarik hasil blogwalking. Kesimpulannya, Negara maju telah berpikir untuk mengarahkan anak-anak sejak dini, entah melalui psikotes, uji bakat atau cara lainnya.
Setahu saya, cuma sekolah berlabel plus atau Home Schooling yang meniru sistem ini, selain difasilitasi, anak-anak bahkan dimotivasi untuk menemukan bakat mereka. Sedangkan sisanya mengandalkan organisasi sekolah, ukm atau apapun istilahnya untuk mewadahi aktualisasi siswa.
Namun sayang, bagi saya negeri ini seolah mengenal bakat sebatas keluwesan diatas catwalk atau wara-wiri di layar kaca. Ngga salah, saya hanya menyayangkan, meskipun tlah banyak prestasi diukir dari berbagai bidang, ekspos media seakan berpihak sebatas pada “bakat” tadi. Padahal Bakat adalah varian paling dinamis, festival essai, kontes debat, pertandingan olahraga, pagelaran budaya, olimpiade sains hinga kompetisi berbau kreatifitas telah melahirkan bibit-bibit unggul pengharum nama bangsa melebihi mereka yang mendapat promosi bernama polling SMS atau rating semata. Saya lalu membayangkan sejauhmana hal ini mampu menggiring opini para orangtua untuk berbangga pada uniknya bakat anak-anak mereka, more than just entertainment world
Beruntung, sejak kecil orangtua saya justru memberi kami (anak-anaknya) ruang untuk berpendapat, mengekspresikan diri dan belajar mengenali hal-hal yang disukai. Meskipun tetap saja, batasan, metode pembelajaran selalu mengandalkan disiplin, namun soal bakat tiap anak punya porsi masing-masing. Jika nilai Eksak kami jatuh, tak lantas dicap “bodoh”, karena siapa tahu hidup kami justru berkembang dari bakat…ya seperti saya sekarang ini..
*gemas dengan menjamurnya talent show di televisi*
1 comment March 5, 2009
Tas punggung dan beban yang ditanggung
“hah..beneran kamu sanggup bawa tas segede gitu?”
“emang semua bukunya dipelajarin de?..semuanya?”
Saya tertohok sekaligus miris melihat adik ipar saya yang duduk di kelas 6 SD, sebuah sekolah swasta kawasan Jaktim, dengan postur kurus kecil mirip mini twiggy nekat membawa tas birunya berangkat sekolah tiap hari.
“What the..”, umpat saya dalam hati
bukannya menyangsikan niat sekolah mendidik murid-muridnya untuk lebih rajin belajar, tapi tas berisi buku-buku yang bobotnya mirip belanjaan bulanan sayah berupa kecap botolan, minyak goreng, detergen, gula, sekaleng susu bubuk dsb itu membuat saya ragu.
Rasa penasaran memicu aksi saya membongkar tas biru yang sesekali mirip tv 14 inchi berkonde. Mmm..4x (buku paket setebal proposal project kantor, LKS, buku catatan, buku latihan, buku pe er) belum lagi alat tulis, buku gambar, baju olahraga/topi, payung/ jaket (klo musim ujan)..
saya tertunduk lemas..bukan cuma itu alasannya, seringkali riska (begitu saya memanggilnya) menunggu saya hingga malam hari hanya untuk membantunya mengerjakan atau mengevaluasi beberapa pe er sekaligus setiap harinya, tak jarang pula ia tertegun ketika saya menjelaskan cara mempelajari sesuatu-karena..katanya tak didapat dari sang guru, yang lebih suka meminta murid-murid mengisi LKS dibanding memantau kemampuan mereka.
Sebuah penelitian mengungkap bahwa tas punggung yang diisi beban berlebih memposisikan anak pada kondisi rawan cedera.
Saya lantas berpikir, seberapa efektifkah meminta anak-anak membawa seluruh buku (buku tulis, buku tulis latihan, buku PR, LKS, buku paket) tiap harinya. Jika terdapat 3 pelajaran hari itu, saya bisa membayangkan bobot tas punggung mereka. Apakah hal tadi menjadi jaminan mereka akan cepat menerima pelajaran? Ataukah sudah “sewajibnya” mereka menuruti sistem yang telah tercipta.
Ah..andai saja anak-anak dididik dengan inovasi, bahwa menjejali materi tak selalu menjadi solusi. Toh pada akhirnya yang diminta adalah pemahaman akan pelajaran serta manfaat mempelajari sesuatu. Mereka kelak menjadi generasi yang dituntut untuk fleksibel menghadapi zaman, berbekal catatan akademik yang kemudian bersinergi dengan kesiapan mental dan spiritual.
Sekilas bayangan Bu Muslimah yang membawa murid-muridnya berkeliling mempelajari alam dengan sepeda (dalam film Laskar Pelangi) menjadi perbandingan, tak cuma sekedar ilmu pengetahuan alam yang mereka dapatkan, melainkan suasana belajar menyenangkan. Inikah juga yang mengilhami Dik Doank mendirikan Kandank Joerank Doank?, Butet Manurung mendirikan sekolah alam? atau para relawan penuh sukacita membantu mengajar dan mendidik anak-anak bangsa?
Semoga langkah mereka dimudahkan Sang Maha..
Saya tak ragu sedikitpun dengan kemuliaan profesi ini, atau menyesalkan keberadaan sekolah yang mengagungkan pergantian kurikulum berbasis bla..bla..bla, cuma berharap riska kuat, mengerti dan memahami makna membawa tas punggung dengan beban yang ditanggung
Add comment February 19, 2009


