Posts filed under 'Komunikasi'
Berbeda itu Sederhana..
Stand warna-warni yang menyajikan jajanan khas anak negeri, beragam souvenir dan pernak-pernik unik dijajakan berani, tampil lengkap dengan deretan mahasiswa berbalut busana daerah tersenyum ramah. Di panggung utama, beragam lomba, atraksi hingga pentas seni mempesona silih berganti, menyihir penonton yang kagum pada keanekaragaman seni budaya yang dihadirkan Gebyar Nusantara, Festival Budaya Daerah yang digelar BEM KM IPB tiap tahunnya. Saya beruntung dipercaya menjadi pemandu acara pada edisi perdananya di tahun 2005.
Tak sedikitpun gurat iri nampak siang itu di Pelataran Graha Widya Wisuda IPB, tempat cultural event ini digelar. Penampil dari tiap OMDA (Organisasi Mahasiswa Daerah) bersaing sehat mencuri perhatian, penonton tanpa pilih kasih tersenyum dan bertepuk tangan, harmoni tampil ke depan diatas segala perbedaan. Begitu hidup..begitu toleran.
Momen itu begitu berkesan, saya seolah berwisata keliling Indonesia, negeri yang memiliki keberagaman tingkat tinggi karena dikaruniai Tuhan eksotisme alam kepulauan, didiami penduduk berbeda suku, agama, ras dan golongan hingga melahirkan karakter dan kebiasaan yang luar biasa macamnya. Tak heran jika para pendiri negara kita menganggap konsep Bhineka Tunggal Ika (meskipun berbeda namun tetap satu jua) sesuai mencerminkan dinamika yang ada.
Di kampuslah saya kembali belajar menyikapi keanekaragaman. Maklum saja, pada tahun 2002 saat saya diterima sebagai mahasiswa, IPB untuk pertama kalinya menggelar PPAMB (Program Pembinaan Akademik dan Multibudaya) yang diimplementasikan melalui asrama. Maka ngga aneh jika saya tak hanya mengenal teman sesama program studi atau jurusan, melainkan hampir satu angkatan. Awalnya sempat ada keraguan, apakah program ini mampu mengasah jiwa toleran atau malah memperluas jurang perbedaan.
Nyatanya, saya malah keranjingan
..asrama multibudaya membuat saya mendapat beraneka cerita seputar daerah asal, belajar logat dan bahasa, naksir-naksiran sampai kebagian oleh-oleh khas tiap lebaran. Keripik coklat pisang asal Lampung, jenang apel dari Malang, wajik Bogor, kerupuk Palembang….ooooalahhhhh sedeeeeeepppp. Meski tak mudah, kadang muncul stereotipe, cultural shock plus homesick, adaptasi terus berjalan. Hemat saya, program ini cukup efektif membuat mahasiswa memahami arti pluralisme.
Sesederhana itukah perbedaan…? bagi saya jawabnya ya.
Jika kita bisa begitu terbuka pada persamaan, mengapa tak bersikap sama pada perbedaan?.
Bukankah pelangi nampak indah karena ragam warna saling melengkapi?
Tidakkah orchestra memanja telinga karena perbedaan instrumen menghasilkan harmoni?
Kuncinya adalah komunikasi, cara dimana kita diajarkan untuk berempati. Perbedaan adalah realitas tak terelakkan, mengapa kita tak mencoba mencari jalan tuk memahaminya?. Pertandingan olahraga, pagelaran budaya, konser musik, community gathering bahkan pesta blogger bisa jadi alternatifnya. Tentunya banyak jiwa kreatif yang mampu mengolah keanekaragaman menjadi prestasi melalui event yang bersifat universal, dimana interaksi didasarkan pada penghargaan atas tiap pribadi, keunikan bakat yang dimiliki dan keinginan untuk hidup berdampingan. Ayo kita mulai dari diri sendiri !!!.
Asiknya bisa tukeran info, ilmu, pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain. Tak akan berkurang apa yang kita miliki, tak akan rugi memuji atau berdialog “memperkaya” diri. Tepis pertikaian antar suporter, persaingan antar pendukung partai, tawuran warga, pelajar dan mahasiswa atau diskriminasi. Hidupkan kembali semangat toleransi dalam hati..kemudian mewujud dalam aksi.
ngutip ah
..
One Spirit..One Nation !!!!!
Note : untuk mengikuti Pesta Blogger Writting Contest 2009
3 comments September 17, 2009
Penyiar Ngawur, Pendengar Kabur
Ngaku deh..seberapa sering anda gonta-ganti channel radio sesukanya?
Apalagi klo penyiarnya banyak omong tapi kriuk gosong, kelamaan jadi males bertahan, salah ngucap atau salah ungkap..beuh kiamat mendekap. Itulah kejamnya dunia radio, menerima kenyataan atau sekedar membayangkan pendengar melenggang pergi saat kita On Air adalah tantangan menyakitkan.
Dulu banget, saya menganggap penyiar itu profesi mudah dan menyenangkan, buka mic dan bicara seenaknya. Sampai diperkenalkan dengan naskah, iklan baca, topik siaran, perangkat siaran dan “mengudara” dalam arti sebenarnya. Tak sedikit persiapan yang dilakukan, disinilah saya belajar lebih dari sekedar mengeluarkan suara, melainkan mengasah kecepatan berpikir, mengisi kepala dengan banyak info dan membayangkan reaksi pendengar. Emangnya situ mau diketahui secara luas doyannya cuma ngomong ngawur..ngga meaning..(meskipun ngga jarang penyiar/MC atau entertain yang berani gila a.k.a gayanya ngawur malah dicari-cari orang, dipuja karena kekonyolannya)
Mempelajari sesuatu yang kita gemari emang seru banget, mendapat respon variatif dari pendengar adalah salah satunya. Ini beberapa contoh “dosa” saya
- Bilang klo Ronan Keating adalah personel Take That, berujung belasan SMS yang bilang klo jawaban benernya Boyzone
- Saking cepetnya ngomong jadi cadel, berujung SMS kritik “kepleset ya bo…”
- Ngomong gantung (nanggung gitu deh berentinya), berujung SMS “trus..mo ngomong apa?”
- Masih banyak..tapi ngga tega ngelanjutinnya ^_^
Lumayan, jadi bisa mengenali pendengar, mulai dari pengkritik baik-baik, tukang goda hingga tukang memaki. Semuanya diterima dengan lega hati. Sering juga saya menemui pendengar yang baiknya minta ampun, tak hanya sekedar merespon positif omongan atau sharing opini, mereka juga setia absen SMS setiap kita siaran, bahkan doyan ngirim macem macem tanpa diminta. Beragam jenis makanan, pernak-pernik, souvenir, parcel sampe sprei batik pernah saya terima.
Popularitas memang menggoda, namun yang selalu saya ingat:
“Berikan performa terbaik saat bersiaran, tanpa menyebut nama pun..anda akan dicari dan dipuja“
Salah satu mentor saya selalu memotivasi, tebarkan sejuta manfaat melalui media sejuta umat, jangan bangga dengan glamoritas, label atau sekedar tenar. Inilah yang kemudian melatih penyiar untuk selalu bertanggungjawab pada apa yang diungkapnya saat On Air. Makanya saya kagum banget ngeliat para senior yang mampu ngobrolin banyak hal dengan seru, berisi namun tetap menghibur..mauuuuuuuu
Add comment January 15, 2009


