Posts filed under 'Dunia Pendidikan'
Kampusmu = Kastamu
“Eh sayang banget ya..si itu kan pinter, kok ngga dapet universitas negeri?”
Saya tidak pernah menyangka fenomena ini kemudian menjadi bahan perbincangan seru antara saya dan suami. Maklum, suami saya yang alumni FISIP UNAS sempat mencak-mencak karena seringkali menemui anggapan bahwa kemampuannya berada dibawah rata-rata jebolan Universitas Negeri. Padahal nyatanya, sejak bergelut dengan dunia jurnalistik, tak jarang ia menemukan sosok-sosok sukses yang berangkat dari sekolah swasta.
Saya sempat mendebat, semua karena perbedaan metode belajar saja, sekolah negeri seolah mencipta kaum SO (Study Oriented) karena berbasis catatan akademik seseorang, sedangkan sekolah swasta dianggap sebagai pilihan kedua yang fokusnya hanya soal meraup materi semata.
Aneh juga, jika hingga saat ini kita masih mengkotak-kotakkan diri dengan label SAYA ANAK NEGERI dan KAMU ANAK SWASTA. Tak pernahkah terlintas di pikiran bahwa, tak jarang seseorang MEMILIH ingin bersekolah dimana.
2 comments April 2, 2009
Benarkah Bakat sesuatu yang Hebat?
Perdebatan ini bermula ketika saya membaca artikel menarik hasil blogwalking. Kesimpulannya, Negara maju telah berpikir untuk mengarahkan anak-anak sejak dini, entah melalui psikotes, uji bakat atau cara lainnya.
Setahu saya, cuma sekolah berlabel plus atau Home Schooling yang meniru sistem ini, selain difasilitasi, anak-anak bahkan dimotivasi untuk menemukan bakat mereka. Sedangkan sisanya mengandalkan organisasi sekolah, ukm atau apapun istilahnya untuk mewadahi aktualisasi siswa.
Namun sayang, bagi saya negeri ini seolah mengenal bakat sebatas keluwesan diatas catwalk atau wara-wiri di layar kaca. Ngga salah, saya hanya menyayangkan, meskipun tlah banyak prestasi diukir dari berbagai bidang, ekspos media seakan berpihak sebatas pada “bakat” tadi. Padahal Bakat adalah varian paling dinamis, festival essai, kontes debat, pertandingan olahraga, pagelaran budaya, olimpiade sains hinga kompetisi berbau kreatifitas telah melahirkan bibit-bibit unggul pengharum nama bangsa melebihi mereka yang mendapat promosi bernama polling SMS atau rating semata. Saya lalu membayangkan sejauhmana hal ini mampu menggiring opini para orangtua untuk berbangga pada uniknya bakat anak-anak mereka, more than just entertainment world
Beruntung, sejak kecil orangtua saya justru memberi kami (anak-anaknya) ruang untuk berpendapat, mengekspresikan diri dan belajar mengenali hal-hal yang disukai. Meskipun tetap saja, batasan, metode pembelajaran selalu mengandalkan disiplin, namun soal bakat tiap anak punya porsi masing-masing. Jika nilai Eksak kami jatuh, tak lantas dicap “bodoh”, karena siapa tahu hidup kami justru berkembang dari bakat…ya seperti saya sekarang ini..
*gemas dengan menjamurnya talent show di televisi*
1 comment March 5, 2009
Tas punggung dan beban yang ditanggung
“hah..beneran kamu sanggup bawa tas segede gitu?”
“emang semua bukunya dipelajarin de?..semuanya?”
Saya tertohok sekaligus miris melihat adik ipar saya yang duduk di kelas 6 SD, sebuah sekolah swasta kawasan Jaktim, dengan postur kurus kecil mirip mini twiggy nekat membawa tas birunya berangkat sekolah tiap hari.
“What the..”, umpat saya dalam hati
bukannya menyangsikan niat sekolah mendidik murid-muridnya untuk lebih rajin belajar, tapi tas berisi buku-buku yang bobotnya mirip belanjaan bulanan sayah berupa kecap botolan, minyak goreng, detergen, gula, sekaleng susu bubuk dsb itu membuat saya ragu.
Rasa penasaran memicu aksi saya membongkar tas biru yang sesekali mirip tv 14 inchi berkonde. Mmm..4x (buku paket setebal proposal project kantor, LKS, buku catatan, buku latihan, buku pe er) belum lagi alat tulis, buku gambar, baju olahraga/topi, payung/ jaket (klo musim ujan)..
saya tertunduk lemas..bukan cuma itu alasannya, seringkali riska (begitu saya memanggilnya) menunggu saya hingga malam hari hanya untuk membantunya mengerjakan atau mengevaluasi beberapa pe er sekaligus setiap harinya, tak jarang pula ia tertegun ketika saya menjelaskan cara mempelajari sesuatu-karena..katanya tak didapat dari sang guru, yang lebih suka meminta murid-murid mengisi LKS dibanding memantau kemampuan mereka.
Sebuah penelitian mengungkap bahwa tas punggung yang diisi beban berlebih memposisikan anak pada kondisi rawan cedera.
Saya lantas berpikir, seberapa efektifkah meminta anak-anak membawa seluruh buku (buku tulis, buku tulis latihan, buku PR, LKS, buku paket) tiap harinya. Jika terdapat 3 pelajaran hari itu, saya bisa membayangkan bobot tas punggung mereka. Apakah hal tadi menjadi jaminan mereka akan cepat menerima pelajaran? Ataukah sudah “sewajibnya” mereka menuruti sistem yang telah tercipta.
Ah..andai saja anak-anak dididik dengan inovasi, bahwa menjejali materi tak selalu menjadi solusi. Toh pada akhirnya yang diminta adalah pemahaman akan pelajaran serta manfaat mempelajari sesuatu. Mereka kelak menjadi generasi yang dituntut untuk fleksibel menghadapi zaman, berbekal catatan akademik yang kemudian bersinergi dengan kesiapan mental dan spiritual.
Sekilas bayangan Bu Muslimah yang membawa murid-muridnya berkeliling mempelajari alam dengan sepeda (dalam film Laskar Pelangi) menjadi perbandingan, tak cuma sekedar ilmu pengetahuan alam yang mereka dapatkan, melainkan suasana belajar menyenangkan. Inikah juga yang mengilhami Dik Doank mendirikan Kandank Joerank Doank?, Butet Manurung mendirikan sekolah alam? atau para relawan penuh sukacita membantu mengajar dan mendidik anak-anak bangsa?
Semoga langkah mereka dimudahkan Sang Maha..
Saya tak ragu sedikitpun dengan kemuliaan profesi ini, atau menyesalkan keberadaan sekolah yang mengagungkan pergantian kurikulum berbasis bla..bla..bla, cuma berharap riska kuat, mengerti dan memahami makna membawa tas punggung dengan beban yang ditanggung
Add comment February 19, 2009
Andrea Hirata dan Cinta Pandangan Pertama
Siang itu kami berbincang tentang cita-cita menulis
sambil menyeruput kopi dan mengudap biskuit kelapa
Siang itu di Museum Mandiri Jakarta, saya hampir menangis
sambil berdecak kagum pada beragam pemikirannya
Siang itu..Minggu 23 Juli 2008
saya berani kembali bermimpi dan menyusun langkah pasti..
Bang Ikal a.k.a Andrea Hirata memang seorang inspirator, melalui tetralogi Laskar Pelangi ia berhasil memikat berjuta hati untuk belajar lebih peduli pada sastra, realita, pendidikan, arti sebuah perjuangan hingga profesi mulia seorang guru. Tak berlebihan jika saya dan ribuan penggemarnya menaruh ekspektasi tinggi terhadap film laskar pelangi yang rencananya rilis tanggal 25 September 2008.
Menariknya lagi, setelah obsesinya tinggal di sebuah desa di puncak Himalaya tercapai, Andrea berencana pulang ke Belitong untuk memenuhi panggilan hatinya menjadi seorang guru.
saya pun jatuh cinta pada pandangan pertama, tak hanya pada karya tapi pada “hati” yang diberikannya untuk pendidikan anak-anak negeri
Add comment July 24, 2008
Buru-buru..Syndrom Mahasiswa Tingkat Akhir
“Haaa..ganti judul!”
“literaturnya ngga relevan?”
“Gosh..draft gw direvisi lagi !”
“duh..mau penelitian dimana ya?”
Yup sederet pertanyaan dan pernyataan diatas tergolong rajin” muncul di keseharian mahasiswa tingkat akhir . Berdasarkan survey dan
pengalaman (penulis_red), ada satu pertanyaan yang sensitive bangedh (dalem,
nyindir, mengundang hikz..hikz sampe badmood berkepanjangan baik secara
tampilan wajah alias timbul “wajah miris/jutek/malu” maupun dalam pikiran
seseorang) dan dianjurkan untuk tidak mengatakannya secara langsung (bahasa dan
intonasi diperhalus githu..) atau klo pengen ngomong juga, kepaksa karena ngga
ada bahan omongan…yaaa jangan terlalu sering lah..
Kalimatnya sederhana sih, Cuma “kapan lulus?”. Pendek kan,
tapi bagi sebagian besar orang yang saya temui dan survey kecil-kecilan,
kalimat ini berefek hebat dan punya “pressure” yang cukup besar. Ngga peduli
disampaikan oleh siapa, kalimat “kapan lulus?” punya dampak yang sanggup
membuat mahasiswa tingkat akhir down, malu atau bahkan termotivasi. Percaya
atau ngga kalimat ini juga berdampak merusak persahabatan gara-gara asumsi
bahwa si penanya pengen “pamer”, “nyindir” dan ngga ngertiin sisi psikologis
yang ditanya. Jadi, penyampaian kalimat ini oleh orang terdekat kita (orangtua, sahabat, our lover-bagi yang ngga
single dan memilih jalan ini-) lebih “Njlep..”nusuk di hati
(Ha..ha..ha..ekstrim banget kata-katanya)
The point is, situasi dan kondisi ini jadi suatu dilema
tersendiri bagi mahasiswa (baik kk kelas maupun ade kelas). Serba salah, klo
nanya takut disangka nyindir, klo ngga nanya disangka ngga care dan pastinya
kita pengen tahu perkembangan orang lain.
Gw menganalogikan hal ini dengan “syndrom mahasiswa tingkat
akhir”. Meskipun ada aja yang ngga mau ngaku-atau emang bijak menyikapinya dengan
sabar-, hal ini menjadi kekhawatiran yang kadang ditanggapi berlebihan.
For me..
You know what the best things for you
Hidup ini pilihan, yang tahu potensi seseorang adalah si
orang itu sendiri. Baik kemampuan maupun kelemahan, jadi penentuan langkah terbaik
bagi seseorang datangnya dari pemikirannya sendiri (meskipun faktor lain
seperti dukungan, saran dan kritik orang-orang sekitar, doa dan kuasa
Allah/Sang Pencipta, pengalaman turut ambil bagian), dan pembelajarannya
memaknai hidup ini-bersyukur pada Allah-.
Emangnya hidup ini untuk buru-buru lulus kuliah aja, bersikap
panik dan kadang nyalahin diri sendiri karena ngga lulus-lulus…it’s to naïf
(maap klo ada yang tersinggung). Gw setuju banget klo hidup ini harus terencana
(bahkan dalam sebuah buku disebutkan, ciri seorang muslim prestatif sejati
adalah punya perencanaan hidup, baik di dunia maupun mempersiapkan “bekal” di
akhirat nanti). Tapi gw ngga sependapat klo kita “dibebani oleh target
hidup-termasuk lulus kuliah-“…
Hidup merupakan proses yang mesti dinikmati tiap langkahnya,
pait kek..manis kek..pokoe berbagai rasa ada. Toh bersyukur dengan tiap sikon
yang kita terima membuat hidup ini terasa lebih ringan, karena percaya bahwa
Allah menciptakan segala sesuatu tidak untu sia-sia…dan perlahan SYNDROM
MAHASISWA TINGKAT AKHIR yang dirasakan menjadi sesuatu yang wajar, penuh hikmah
dan memotivasi untuk kembali semangat…
Letto bilang..
…….”Ingat tuk mulai lagi”
Jangan salah, gw sering bangedh kena syndrom ini (entah
karena ego, gengsi atau naïf), tapi dengan berusaha kita pasti bisa meredam dan
menyikapinya dengan lebih bijaksana (cihui….gw suka banget ma kalimat ini).
Sesuatu yang baik juga mesti dilengkapi ma proses yang baik, ngga pengen kan
cepet lulus trus sibuk plagiat sana-sini, stress gara-gara mandek ide coz
kebanyakan mikir kemungkinan terburuk..
Take it easy
Bersyukur itu bukan berarti pasrah, tapi semangat
berusaha-pake doa- dan PUNYA RENCANA juga ngga BURU-BURU BERTINDAK. Dengan
tenang kita bisa bilang “syndrom oh syndrome…it’s natural in life”
‘Met baca guyz..hopefully it will be useful -not just for
me, but also for U-
Add comment March 21, 2006


