Archive for March, 2009
Sang Maestro
Instrumental music mengalun merdu dari windows media player yang memainkan 10 track album Evolusi karya Yockie Suryo Prayogo & Susilo Bambang Yudhoyono. Segenap pikiran saya begitu dimanja untaian nada, imajinasi berlompatan dalam kepala, inilah salah satu kelemahan terbesar saya, cepat kagum dibuai karya cerdas para musisi, yang tak hanya menawarkan manisnya sebuah industri, melainkan karya yang membuat saya makin mencinta Sang Maha.
Sore ini, saya mendapat kesempatan berbincang dengan Mas Yockie seputar peluncuran album instrumentalnya. Tak menyangka, begitu banyak yang saya dapatkan hanya dengan obrolan sederhana bersama beliau, mengenai karya pop yang merajalela, karya yang memihak pada industri-dan bukan memperkaya pilihan pendengar, political will, apresiasi terhadap karya seni hingga semakin lembut beliau bicara, semakin saya mampu menangkap idealisme yang dipegangnya.
Lebih dari sekedar pengetahuan tentang bidang yang tekuni, dedikasi, sebuah visi, bahkan berani menjadi diri sendiri memastikan bahwa saya tlah berbincang dengan salah seorang Maestro. Tak sedikitpun nada kesombongan mencuat dari perbincangan kami, yang dipaparkan hanya semangatnya mengelola atau mencipta sebuah karya bersama rekan-rekan seprofesinya, tak heran jika Idris Sardi, Kiboud Maulana, musisi senior lainnya terlibat penuh hasrat.
Terlepas dari reinterpretasi album miliki Bapak Susilo Bambang Yudhoyono selaku presiden Republik Indonesia, album ini memikat saya dengan caranya tersendiri. Tak berdasar politis terhadap SBY dan partainya atau fanatik terhadap karya-karya Yockie, rangkaian melodi yang ditawarkan ke telinga inilah yang menyadarkan saya betapa prestasi Sang Maestro tlah melampaui namanya sendiri.
Saya berandai-andai kembali, bagaimana maestro di ranah lain, dalam Blogosphere misalnya? Bagaimanakah cara mereka mempertahankan idealisme saat ngeblog? Menghasilkan karya tulis tanpa tergerus industri, sehingga yang dihasilkan kemudian prestasi..optimisme terhadap mereka-para pembaca setianya, inspirasi, motivasi..bahkan manfaat melakukan perubahan menuju pribadi yang lebih baik lagi..hanya berawal dari sebuah karya..rangkaian kata..
Jauh dari sebatas tahta popularitas, atau tumpukan komentar yang melenakan (tapi menyenangkan…) plus kehilangan hati saat menulis..
Ah..entah mengapa saya begitu yakin blog menjadi jalan efektif mengkampanyekan hal-hal baik, begitupun hal-hal sebaliknya, tinggal bagaimana menekuni pilihan…Sang Maestrolah yang bisa menjawabnya..dengan karya..yang melebihi nama mereka.
Add comment March 20, 2009
Benarkah Bakat sesuatu yang Hebat?
Perdebatan ini bermula ketika saya membaca artikel menarik hasil blogwalking. Kesimpulannya, Negara maju telah berpikir untuk mengarahkan anak-anak sejak dini, entah melalui psikotes, uji bakat atau cara lainnya.
Setahu saya, cuma sekolah berlabel plus atau Home Schooling yang meniru sistem ini, selain difasilitasi, anak-anak bahkan dimotivasi untuk menemukan bakat mereka. Sedangkan sisanya mengandalkan organisasi sekolah, ukm atau apapun istilahnya untuk mewadahi aktualisasi siswa.
Namun sayang, bagi saya negeri ini seolah mengenal bakat sebatas keluwesan diatas catwalk atau wara-wiri di layar kaca. Ngga salah, saya hanya menyayangkan, meskipun tlah banyak prestasi diukir dari berbagai bidang, ekspos media seakan berpihak sebatas pada “bakat” tadi. Padahal Bakat adalah varian paling dinamis, festival essai, kontes debat, pertandingan olahraga, pagelaran budaya, olimpiade sains hinga kompetisi berbau kreatifitas telah melahirkan bibit-bibit unggul pengharum nama bangsa melebihi mereka yang mendapat promosi bernama polling SMS atau rating semata. Saya lalu membayangkan sejauhmana hal ini mampu menggiring opini para orangtua untuk berbangga pada uniknya bakat anak-anak mereka, more than just entertainment world
Beruntung, sejak kecil orangtua saya justru memberi kami (anak-anaknya) ruang untuk berpendapat, mengekspresikan diri dan belajar mengenali hal-hal yang disukai. Meskipun tetap saja, batasan, metode pembelajaran selalu mengandalkan disiplin, namun soal bakat tiap anak punya porsi masing-masing. Jika nilai Eksak kami jatuh, tak lantas dicap “bodoh”, karena siapa tahu hidup kami justru berkembang dari bakat…ya seperti saya sekarang ini..
*gemas dengan menjamurnya talent show di televisi*
1 comment March 5, 2009


