Tas punggung dan beban yang ditanggung
February 19, 2009
“hah..beneran kamu sanggup bawa tas segede gitu?”
“emang semua bukunya dipelajarin de?..semuanya?”
Saya tertohok sekaligus miris melihat adik ipar saya yang duduk di kelas 6 SD, sebuah sekolah swasta kawasan Jaktim, dengan postur kurus kecil mirip mini twiggy nekat membawa tas birunya berangkat sekolah tiap hari.
“What the..”, umpat saya dalam hati
bukannya menyangsikan niat sekolah mendidik murid-muridnya untuk lebih rajin belajar, tapi tas berisi buku-buku yang bobotnya mirip belanjaan bulanan sayah berupa kecap botolan, minyak goreng, detergen, gula, sekaleng susu bubuk dsb itu membuat saya ragu.
Rasa penasaran memicu aksi saya membongkar tas biru yang sesekali mirip tv 14 inchi berkonde. Mmm..4x (buku paket setebal proposal project kantor, LKS, buku catatan, buku latihan, buku pe er) belum lagi alat tulis, buku gambar, baju olahraga/topi, payung/ jaket (klo musim ujan)..
saya tertunduk lemas..bukan cuma itu alasannya, seringkali riska (begitu saya memanggilnya) menunggu saya hingga malam hari hanya untuk membantunya mengerjakan atau mengevaluasi beberapa pe er sekaligus setiap harinya, tak jarang pula ia tertegun ketika saya menjelaskan cara mempelajari sesuatu-karena..katanya tak didapat dari sang guru, yang lebih suka meminta murid-murid mengisi LKS dibanding memantau kemampuan mereka.
Sebuah penelitian mengungkap bahwa tas punggung yang diisi beban berlebih memposisikan anak pada kondisi rawan cedera.
Saya lantas berpikir, seberapa efektifkah meminta anak-anak membawa seluruh buku (buku tulis, buku tulis latihan, buku PR, LKS, buku paket) tiap harinya. Jika terdapat 3 pelajaran hari itu, saya bisa membayangkan bobot tas punggung mereka. Apakah hal tadi menjadi jaminan mereka akan cepat menerima pelajaran? Ataukah sudah “sewajibnya” mereka menuruti sistem yang telah tercipta.
Ah..andai saja anak-anak dididik dengan inovasi, bahwa menjejali materi tak selalu menjadi solusi. Toh pada akhirnya yang diminta adalah pemahaman akan pelajaran serta manfaat mempelajari sesuatu. Mereka kelak menjadi generasi yang dituntut untuk fleksibel menghadapi zaman, berbekal catatan akademik yang kemudian bersinergi dengan kesiapan mental dan spiritual.
Sekilas bayangan Bu Muslimah yang membawa murid-muridnya berkeliling mempelajari alam dengan sepeda (dalam film Laskar Pelangi) menjadi perbandingan, tak cuma sekedar ilmu pengetahuan alam yang mereka dapatkan, melainkan suasana belajar menyenangkan. Inikah juga yang mengilhami Dik Doank mendirikan Kandank Joerank Doank?, Butet Manurung mendirikan sekolah alam? atau para relawan penuh sukacita membantu mengajar dan mendidik anak-anak bangsa?
Semoga langkah mereka dimudahkan Sang Maha..
Saya tak ragu sedikitpun dengan kemuliaan profesi ini, atau menyesalkan keberadaan sekolah yang mengagungkan pergantian kurikulum berbasis bla..bla..bla, cuma berharap riska kuat, mengerti dan memahami makna membawa tas punggung dengan beban yang ditanggung
Entry Filed under: Dunia Pendidikan. Tags: Anak, fenomena, Pendidikan, sekolah.



Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed