Buru-buru..Syndrom Mahasiswa Tingkat Akhir
March 21, 2006
“Haaa..ganti judul!”
“literaturnya ngga relevan?”
“Gosh..draft gw direvisi lagi !”
“duh..mau penelitian dimana ya?”
Yup sederet pertanyaan dan pernyataan diatas tergolong rajin” muncul di keseharian mahasiswa tingkat akhir . Berdasarkan survey dan
pengalaman (penulis_red), ada satu pertanyaan yang sensitive bangedh (dalem,
nyindir, mengundang hikz..hikz sampe badmood berkepanjangan baik secara
tampilan wajah alias timbul “wajah miris/jutek/malu” maupun dalam pikiran
seseorang) dan dianjurkan untuk tidak mengatakannya secara langsung (bahasa dan
intonasi diperhalus githu..) atau klo pengen ngomong juga, kepaksa karena ngga
ada bahan omongan…yaaa jangan terlalu sering lah..
Kalimatnya sederhana sih, Cuma “kapan lulus?”. Pendek kan,
tapi bagi sebagian besar orang yang saya temui dan survey kecil-kecilan,
kalimat ini berefek hebat dan punya “pressure” yang cukup besar. Ngga peduli
disampaikan oleh siapa, kalimat “kapan lulus?” punya dampak yang sanggup
membuat mahasiswa tingkat akhir down, malu atau bahkan termotivasi. Percaya
atau ngga kalimat ini juga berdampak merusak persahabatan gara-gara asumsi
bahwa si penanya pengen “pamer”, “nyindir” dan ngga ngertiin sisi psikologis
yang ditanya. Jadi, penyampaian kalimat ini oleh orang terdekat kita (orangtua, sahabat, our lover-bagi yang ngga
single dan memilih jalan ini-) lebih “Njlep..”nusuk di hati
(Ha..ha..ha..ekstrim banget kata-katanya)
The point is, situasi dan kondisi ini jadi suatu dilema
tersendiri bagi mahasiswa (baik kk kelas maupun ade kelas). Serba salah, klo
nanya takut disangka nyindir, klo ngga nanya disangka ngga care dan pastinya
kita pengen tahu perkembangan orang lain.
Gw menganalogikan hal ini dengan “syndrom mahasiswa tingkat
akhir”. Meskipun ada aja yang ngga mau ngaku-atau emang bijak menyikapinya dengan
sabar-, hal ini menjadi kekhawatiran yang kadang ditanggapi berlebihan.
For me..
You know what the best things for you
Hidup ini pilihan, yang tahu potensi seseorang adalah si
orang itu sendiri. Baik kemampuan maupun kelemahan, jadi penentuan langkah terbaik
bagi seseorang datangnya dari pemikirannya sendiri (meskipun faktor lain
seperti dukungan, saran dan kritik orang-orang sekitar, doa dan kuasa
Allah/Sang Pencipta, pengalaman turut ambil bagian), dan pembelajarannya
memaknai hidup ini-bersyukur pada Allah-.
Emangnya hidup ini untuk buru-buru lulus kuliah aja, bersikap
panik dan kadang nyalahin diri sendiri karena ngga lulus-lulus…it’s to naïf
(maap klo ada yang tersinggung). Gw setuju banget klo hidup ini harus terencana
(bahkan dalam sebuah buku disebutkan, ciri seorang muslim prestatif sejati
adalah punya perencanaan hidup, baik di dunia maupun mempersiapkan “bekal” di
akhirat nanti). Tapi gw ngga sependapat klo kita “dibebani oleh target
hidup-termasuk lulus kuliah-“…
Hidup merupakan proses yang mesti dinikmati tiap langkahnya,
pait kek..manis kek..pokoe berbagai rasa ada. Toh bersyukur dengan tiap sikon
yang kita terima membuat hidup ini terasa lebih ringan, karena percaya bahwa
Allah menciptakan segala sesuatu tidak untu sia-sia…dan perlahan SYNDROM
MAHASISWA TINGKAT AKHIR yang dirasakan menjadi sesuatu yang wajar, penuh hikmah
dan memotivasi untuk kembali semangat…
Letto bilang..
…….”Ingat tuk mulai lagi”
Jangan salah, gw sering bangedh kena syndrom ini (entah
karena ego, gengsi atau naïf), tapi dengan berusaha kita pasti bisa meredam dan
menyikapinya dengan lebih bijaksana (cihui….gw suka banget ma kalimat ini).
Sesuatu yang baik juga mesti dilengkapi ma proses yang baik, ngga pengen kan
cepet lulus trus sibuk plagiat sana-sini, stress gara-gara mandek ide coz
kebanyakan mikir kemungkinan terburuk..
Take it easy
Bersyukur itu bukan berarti pasrah, tapi semangat
berusaha-pake doa- dan PUNYA RENCANA juga ngga BURU-BURU BERTINDAK. Dengan
tenang kita bisa bilang “syndrom oh syndrome…it’s natural in life”
‘Met baca guyz..hopefully it will be useful -not just for
me, but also for U-
Entry Filed under: Dunia Pendidikan. Tags: Mahasiswa.



Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed