Archive for March, 2006

^6 hari^

Firstly..i wanna                                                                                        Secondly..I want to
Third..I’d loved to
Fourth..i dream of
Fifth..i’m glad
Sixth..i’m not sure

Have you ever played with the numbers?
Have you ever look at the time you’ve passed?
Have you ever think bout ur dream in the future?
Have you ever feel the meaning on ur age?

mmmm…
menjelang enam hari menyandang usia baru, yang kata orang harusnya jadi lebih “mature”, membuat seorang Ghina kembali berpikir, sudahkah saya (i wanna do this)..?

mengenal diri sendiri
bermanfaat bagi orang lain
pandai bersyukur
semangat mengejar cita-cita
menghargai tiap usaha yang dibangun dengan doa
dan “pantas” mendapat kesempatan untuk mencicipi hari-hari di dunia (lagi dan lagi)

^6 hari^
belum tentu diraih
belum tentu dinikmati
belum tentu Ghina ada

^6 hari^
rasanya ngga terlambat untuk meminta maaf atas segala kesalahan, khilaf dan hal-hal yang tidak berkenan (mudah-mudahan)
rasanya ngga terlambat untuk berterima kasih atas segala kasih sayang, terucap maupun sekedar dalam hati (mudah-mudahan)
rasanya ngga terlambat untuk berkata “Saya menyayangi kalian semua”, keluarga dan kerabat, sahabat, teman, kenalan dan orang-orang yang “dekat” dengan saya

atas segala rasa yang diberi

^6 hari lagi^
hopefully brinngs the better me (it’s a must things)

Add comment March 22, 2006

Buru-buru..Syndrom Mahasiswa Tingkat Akhir

“Haaa..ganti judul!”

“literaturnya ngga relevan?”

Gosh..draft gw direvisi lagi !”

“duh..mau penelitian dimana ya?”

Yup sederet pertanyaan dan pernyataan diatas tergolong rajin” muncul di keseharian mahasiswa tingkat akhir . Berdasarkan survey dan
pengalaman (penulis_red), ada satu pertanyaan yang sensitive bangedh (dalem,
nyindir, mengundang hikz..hikz sampe badmood berkepanjangan baik secara
tampilan wajah alias timbul “wajah miris/jutek/malu” maupun dalam pikiran
seseorang) dan dianjurkan untuk tidak mengatakannya secara langsung (bahasa dan
intonasi diperhalus githu..) atau klo pengen ngomong juga, kepaksa karena ngga
ada bahan omongan…yaaa jangan terlalu sering lah..

Kalimatnya sederhana sih, Cuma “kapan lulus?”. Pendek kan,
tapi bagi sebagian besar orang yang saya temui dan survey kecil-kecilan,
kalimat ini berefek hebat dan punya “pressure” yang cukup besar. Ngga peduli
disampaikan oleh siapa, kalimat “kapan lulus?” punya dampak yang sanggup
membuat mahasiswa tingkat akhir down, malu atau bahkan termotivasi. Percaya
atau ngga kalimat ini juga berdampak merusak persahabatan gara-gara asumsi
bahwa si penanya pengen “pamer”, “nyindir” dan ngga ngertiin sisi psikologis
yang ditanya. Jadi, penyampaian kalimat ini oleh orang terdekat kita (orangtua, sahabat, our lover-bagi yang ngga
single dan memilih jalan ini-) lebih “Njlep..”nusuk di hati
(Ha..ha..ha..ekstrim banget kata-katanya)

The point is, situasi dan kondisi ini jadi suatu dilema
tersendiri bagi mahasiswa (baik kk kelas maupun ade kelas). Serba salah, klo
nanya takut disangka nyindir, klo ngga nanya disangka ngga care dan pastinya
kita pengen tahu perkembangan orang lain.

Gw menganalogikan hal ini dengan “syndrom mahasiswa tingkat
akhir”
. Meskipun ada aja yang ngga mau ngaku-atau emang bijak menyikapinya dengan
sabar-, hal ini menjadi kekhawatiran yang kadang ditanggapi berlebihan.

For me..
You know what the best things for you

Hidup ini pilihan, yang tahu potensi seseorang adalah si
orang itu sendiri. Baik kemampuan maupun kelemahan, jadi penentuan langkah terbaik
bagi seseorang datangnya dari pemikirannya sendiri (meskipun faktor lain
seperti dukungan, saran dan kritik orang-orang sekitar, doa dan kuasa
Allah/Sang Pencipta, pengalaman turut ambil bagian), dan pembelajarannya
memaknai hidup ini-bersyukur pada Allah-.

Emangnya hidup ini untuk buru-buru lulus kuliah aja, bersikap
panik dan kadang nyalahin diri sendiri karena ngga lulus-lulus…it’s to naïf
(maap klo ada yang tersinggung). Gw setuju banget klo hidup ini harus terencana
(bahkan dalam sebuah buku disebutkan, ciri seorang muslim prestatif sejati
adalah punya perencanaan hidup, baik di dunia maupun mempersiapkan “bekal” di
akhirat nanti). Tapi gw ngga sependapat klo kita “dibebani oleh target
hidup-termasuk lulus kuliah-“…

Hidup merupakan proses yang mesti dinikmati tiap langkahnya,
pait kek..manis kek..pokoe berbagai rasa ada. Toh bersyukur dengan tiap sikon
yang kita terima membuat hidup ini terasa lebih ringan, karena percaya bahwa
Allah menciptakan segala sesuatu tidak untu sia-sia…dan perlahan SYNDROM
MAHASISWA TINGKAT AKHIR yang dirasakan menjadi sesuatu yang wajar, penuh hikmah
dan memotivasi untuk kembali semangat…

Letto bilang..
…….”Ingat tuk mulai lagi”

Jangan salah, gw sering bangedh kena syndrom ini (entah
karena ego, gengsi atau naïf), tapi dengan berusaha kita pasti bisa meredam dan
menyikapinya dengan lebih bijaksana (cihui….gw suka banget ma kalimat ini).
Sesuatu yang baik juga mesti dilengkapi ma proses yang baik, ngga pengen kan
cepet lulus trus sibuk plagiat sana-sini, stress gara-gara mandek ide coz
kebanyakan mikir kemungkinan terburuk..

Take it easy
Bersyukur itu bukan berarti pasrah, tapi semangat
berusaha-pake doa- dan PUNYA RENCANA juga ngga BURU-BURU BERTINDAK. Dengan
tenang kita bisa bilang “syndrom oh syndrome…it’s natural in life”

Met baca guyz..hopefully it will be useful -not just for
me, but also for U-

Add comment March 21, 2006

Filosofi Buah

mmm..edisi perdana blogs
pengen berbagi..

Well..klo Dee si “supernova” punya terbitan baru berjudul filosofi kopi, gw juga punya ..i call itfruit  phylosophy

Yup..inspirasi ini datang dan jadi ditulis berkat obrolan bareng temen gw pas lagi makan siang di rumah makan deket kampus, bahkan katanya filosofi ini menginspirasi dy juga, kedengerannya emang aneh tapi sejauh ini filosofi buah ampuh untuk ngebuat gw selalu berpikir positif dan optimis

Lets imagine..
Pernah ngga sih ngerasa klo “masalah” yang kita hadapi tuh berat banget, kok kita ga beruntung  banget dibandingin orang lain, timbul anggapan “gw paling sial di dunia, dan ga ada yang bisa ngertiin gw” bahkan ekstrimnya lagi kita menganggap “Tuhan ga adil”..come on it’s not that worst,
bagi gw kadang hal-hal semacam itu timbul dari pikiran kita sendiri yang “paranoid” begitu nerima “shocking problems” yang memicu sensitivitas tingkat tinggi, bad mood berkepanjangan sampe down dan ga semangat ngerjain apapun..

Eits..tenang aja guyz, gw juga pernah ngalamin hal yang sama. Sampai suatu saat gw berpikir sbenernya setiap orang pasti punya masalah, ga ada yang lebih berat atau ringan, ga ada yang paling sial atau yang paling beruntung…hanya saja tiap masalah yang dihadapi seseorang punya “bentuknya” sendiri

analoginya..
anggap aja masalah gw dan masalah sahabat gw seberat “1 kg”, tapi masalah gw berbentuk “apel” (tanpa maksud apa-apa gw milih buah ini) sedangkan masalah sahabat gw berbentuk “pisang”. Beratnya sama-sama satu kilo tapi punya “rasa” yang berbeda, klo gw suka “apel” pasti gw bakal santai aja ngadepin masalah ini karena gw suka apel, tapi saat gw nerima pisang belum tentu gw suka “memakannya”, begitu juga sahabat gw. So..it’s the same

Yup, anggapan yang muncul dalam diri kita didasari sama pengalaman “memakan” sesuatu, entah itu masalah, hal indah, memorable stories, orkes sakit hati (ngutip dari slank) atau beragam hal yang telah ditulis Allah dalam hidup kita. Sekarang tinggal gimana cara pandang kita ngadepin masalah supaya  mampu membuat kita bangkit dan semangat lagi. Nah klo kita berani “memakan buah” (maksudnya ngalamin sesuatu dan ngadepin resikonya), pasti kita jadi lebih tahu buah mana yang enak dan yang ga enak, mana sih yang sesuai selera (artinya bisa kita hadapi dengan sikap bijak) and the most important thing is “we know how to handle it”

Misalnya aja kita terpaksa “makan pepaya” yang jelas-jelas bikin kita mau “muntah” karena suatu kondisi, kita bisa berpikir bahwa “pepaya itu enak” klo makannya pake susu, atau dicampur ager2 biar jadi puding. Nah artinya pas lagi ngadepin masalah yang bikin BT BANGEDH, dengan berdoa, curhat ma temen, jalan2 atau laennya ternyata membuat masalah itu menjadi “karunia yang membawa hikmah” bagi kita.

Allah menciptakan “buah-buahan” penuh vitamin dan manfaat lainnya untuk dimakan, dimanfaatkan dan mengajari manusia untuk BERSYUKUR atas nikmatNya, begitu pula “masalah” yang mesti kita anggep “Ladang bersyukur” kita. Hidup ini bisa jadi “rujak” yang punya beragam “rasa” , “warna”, dan “makna”, boleh suka atau tidak..yang jelas kita belajar bijak dari “memakannya”

See..
Hidup ni berwarna-warni dan penuh sama inspirasi jadi ga usah takut “makan buah” lagi ya..

Ada yang punya pengalaman “makan buah” dan nyimpen makna tersendiri?
siapa tahu dengan berbagi akan ada “toko buah”, ibarat segudang pengalaman yang bisa bermanfaat bagi orang lain..ditunggu ya tanggapannya

Add comment March 21, 2006


djghina says…

Welcome to djghina's blog :D
penyuka dunia broadcast yang senang berbagi lewat tulisan, bertukar pengalaman dan menjalin pertemanan denganmu..yang mampir ke blogku

”PropertyKita.com

Count Down To Pesta Blogger 2009

Topik terbaru..

Ngobrolin tentang..

Arsip tulisan..

Blogroll

RSS dagdigdug djghina

Yang ikut ngobrol..

Tongkonan on Rumah: penampung “sampah…
Ayam Cinta on Berbeda itu Sederhana..
djghina on Berbeda itu Sederhana..
neng®atna on Berbeda itu Sederhana..
miko on Ngeblog sulit atau kita yang…

Khusus owner..