Ngeblog sulit atau kita yang pelit?
Tahun 2009 menjadi awal semuanya..Entah bencana atau samarnya sebuah rencana?
Saya bertekad kembali aktif ngeblog, dengan tumpukan ide di kepala, ragam turorial plus bayangan bahwa banyak komen menyapa. Entah apa yang merasuki, hingga berjam-jam saya betah memandangi laptop, membuat outline tulisan, mengotak-ngatik theme, bahkan mengedit tulisan-tulisan lama, hingga akhirnya tiba di suatu titik bernama SULIT.
Ya, saya tak bisa menulis dengan lancar meskipun tubuh letih terkapar dan supplai camilan habis beredar. Alih-alih pikiran saya malah melayang ke blog milik teman yang kini populer dan jadi acuan. Saya bilang dalam hati:
“apa yang kurang?”
“saya juga bisa menulis lebih dari itu”
“pait..kenapa rumput tetangga slalu tampak lebih hijau?”
Sejenak saya rehat, menarik napas dan melihat lebih dekat. Menulis adalah keseharian yang butuh perhatian, menulis bukan sekedar memindahkan melainkan menuangkan sebuah pemikiran, menulis bukan sebuah ambisi melainkan kata hati.
Saya begitu kufur nikmat, menganggap bahwa kemudahan datang tanpa latihan, mengesampingkan “urusan hati” saat menyapa lewat tulisan, saya justru lupa tujuan awal menulis adalah..BERBAGI. Mengapa saya begitu “pelit” memberi ruang bagi diri sendiri untuk berekspresi? malah membatasi hati dengan iming-iming tenar semata, gila!!!! dimana manfaat yang dulu begitu digembar-gemborkan dalam setiap aksi? hal itu ada..dan saya pelit menyadarinya.
Ah..
Ngeblog ternyata tak sulit, buktinya uneg-uneg ini malah melejit (saya posting maksudnya ^_^)
Add comment Juni 16, 2009
Lites Corner dan mimpi jadi nyata
Saya tak ingat persis sejak kapan saya berniat menjadikan pemandu acara sebagai profesi impian. Yang jelas, kemampuan Oprah membawakan talkshow setiap pukul 10 pagi di salah satu TV Swasta lantas memacu semangat saya fokus di dunia broadcasting.
Dengan Pdnya saya menulis menjadi Oprah Winfrey-nya Indonesia/ pemandu acara yang inspiratif dengan gaya hangat sebagai bagian dari RESOLUSI. Waktu itu jadi nyengir sendiri, membayangkan susahnya masuk TV sebagai presenter dengan kondisi fisik mungil, wajah biasa dibalut jilbab. Saya ngga peduli, wong namanya juga cita-cita..
Waktu berlalu, saya gagal menjadi presenter televisi, meskipun tlah melewati tahap last interview atau ON CAM test. Lagipula, saat itu pihak radio menawarkan saya belajar ilmu baru dengan memegang amanah sebagai CHIEF EDITOR, sayapun diperbolehkan untuk tetap bersiaran. Hingga suatu saat, kebetulan saya dijadwalkan untuk bersiaran sekaligus memandu Special Program baru bertajuk LITES CORNER. Sebuah program inspirasi yang menghadirkan beragam profil sukses, berbincang tentang karier, personal life hingga proses seseorang mencapai kesuksesan di segala bidang.
Ibarat mendapat durian runtuh, semangat saya begitu meletup-letup. Betapa tidak, Tuhan telah membukakan jalanNya dengan cara yang tak terduga. This is my passion…and i’ve been blessed directly. Sayapun tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengasah kemampuan, belajar membawakan acara dengan santai dan memetik makna untuk pendengar juga diri pribadi. Produser acara ini pun tak luput dari perhatian, tiap masukannya menjadi sangat berharga bagi pengembangan acara ini dan juga diri saya.
Andrea Hirata pernah berkata “inilah kekuatan cita-cita”. Sayapun tersenyum bahagia, tanpa disadari ada begitu banyak hal baik tercipta dari sepenggal cita-cita, tak usahlah kita keras hati mempertanyakan bagaimana cita-cita itu terwujud? Apakah bentuknya sesuai keinginan? Akankah persis seperti yang diharapkan?…karena Tuhan tahu yang TERBAIK bagi kita..yang mau berupaya..
Saya tak ingin menjadi OPRAH lagi, melainkan menjadi yang terbaik dari DIRI saya sendiri
*bonusnya: materi acara ini akan dibukukan, dan saya dipercaya menjadi salah satu editornya (doakan sukses ya !!!)
Add comment Mei 21, 2009
Kita (sengaja) lupa bilang cinta
Saya tak pernah mengerti, mengapa pertambahan usia justru menjauhkan saya dari cara mencinta. Jika dulu saya antusias bermanja pada papa-mama, bersendau-gurau bersama adik-adik saya, berkumpul bersama sahabat, bahkan berbeda pendapat dengan mereka, namun kini perubahan itu jelas adanya.
Apakah pekerjaan yang dijalankan, aktivitas mengurus kehidupan baru yang dibina bersama suami menjadi pembenaran atas kesibukan yang kadang tak berdasar. Lantas saya bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak tlah saya luangkan waktu untuk sekedar say hello kepada kedua orangtua? Menanyakan kesibukan sekolah atau pekerjaan yang dijalani adik-adik saya? Juga mengucapkan selamat ulangtahun pada sahabat-sahabat tercinta? Melalui telp, sms, email, FB atau apapun caranya?
Banyak yang tak sadar bahwa kita seringkali (sengaja) lupa bilang cinta.
Add comment Mei 7, 2009
Kampusmu = Kastamu
“Eh sayang banget ya..si itu kan pinter, kok ngga dapet universitas negeri?”
Saya tidak pernah menyangka fenomena ini kemudian menjadi bahan perbincangan seru antara saya dan suami. Maklum, suami saya yang alumni FISIP UNAS sempat mencak-mencak karena seringkali menemui anggapan bahwa kemampuannya berada dibawah rata-rata jebolan Universitas Negeri. Padahal nyatanya, sejak bergelut dengan dunia jurnalistik, tak jarang ia menemukan sosok-sosok sukses yang berangkat dari sekolah swasta.
Saya sempat mendebat, semua karena perbedaan metode belajar saja, sekolah negeri seolah mencipta kaum SO (Study Oriented) karena berbasis catatan akademik seseorang, sedangkan sekolah swasta dianggap sebagai pilihan kedua yang fokusnya hanya soal meraup materi semata.
Aneh juga, jika hingga saat ini kita masih mengkotak-kotakkan diri dengan label SAYA ANAK NEGERI dan KAMU ANAK SWASTA. Tak pernahkah terlintas di pikiran bahwa, tak jarang seseorang MEMILIH ingin bersekolah dimana.
Add comment April 2, 2009
Sang Maestro
Instrumental music mengalun merdu dari windows media player yang memainkan 10 track album Evolusi karya Yockie Suryo Prayogo & Susilo Bambang Yudhoyono. Segenap pikiran saya begitu dimanja untaian nada, imajinasi berlompatan dalam kepala, inilah salah satu kelemahan terbesar saya, cepat kagum dibuai karya cerdas para musisi, yang tak hanya menawarkan manisnya sebuah industri, melainkan karya yang membuat saya makin mencinta Sang Maha.
Sore ini, saya mendapat kesempatan berbincang dengan Mas Yockie seputar peluncuran album instrumentalnya. Tak menyangka, begitu banyak yang saya dapatkan hanya dengan obrolan sederhana bersama beliau, mengenai karya pop yang merajalela, karya yang memihak pada industri-dan bukan memperkaya pilihan pendengar, political will, apresiasi terhadap karya seni hingga semakin lembut beliau bicara, semakin saya mampu menangkap idealisme yang dipegangnya.
Lebih dari sekedar pengetahuan tentang bidang yang tekuni, dedikasi, sebuah visi, bahkan berani menjadi diri sendiri memastikan bahwa saya tlah berbincang dengan salah seorang Maestro. Tak sedikitpun nada kesombongan mencuat dari perbincangan kami, yang dipaparkan hanya semangatnya mengelola atau mencipta sebuah karya bersama rekan-rekan seprofesinya, tak heran jika Idris Sardi, Kiboud Maulana, musisi senior lainnya terlibat penuh hasrat.
Terlepas dari reinterpretasi album miliki Bapak Susilo Bambang Yudhoyono selaku presiden Republik Indonesia, album ini memikat saya dengan caranya tersendiri. Tak berdasar politis terhadap SBY dan partainya atau fanatik terhadap karya-karya Yockie, rangkaian melodi yang ditawarkan ke telinga inilah yang menyadarkan saya betapa prestasi Sang Maestro tlah melampaui namanya sendiri.
Saya berandai-andai kembali, bagaimana maestro di ranah lain, dalam Blogosphere misalnya? Bagaimanakah cara mereka mempertahankan idealisme saat ngeblog? Menghasilkan karya tulis tanpa tergerus industri, sehingga yang dihasilkan kemudian prestasi..optimisme terhadap mereka-para pembaca setianya, inspirasi, motivasi..bahkan manfaat melakukan perubahan menuju pribadi yang lebih baik lagi..hanya berawal dari sebuah karya..rangkaian kata..
Jauh dari sebatas tahta popularitas, atau tumpukan komentar yang melenakan (tapi menyenangkan…) plus kehilangan hati saat menulis..
Ah..entah mengapa saya begitu yakin blog menjadi jalan efektif mengkampanyekan hal-hal baik, begitupun hal-hal sebaliknya, tinggal bagaimana menekuni pilihan…Sang Maestrolah yang bisa menjawabnya..dengan karya..yang melebihi nama mereka.
Add comment Maret 20, 2009